Melihat foto teman-teman yang sudah beranjak dewasa menyadarkan diriku bahwa akupun sepertinya. Seperti gerbang yang siap untuk di masuki. Takut tapi mau tidak mau harus menerimanya. Menjadi anak kecil itu tidak selamanya. Menjalankan kehidupan seperti orang dewasa adalah hal yang tak pernah terbayangkan. Mencari pekerjaan, menikah, mempunyai anak adalah hal yang tak terpikirkan. Ku pikir dunia ini seperi kapas atau permen kapas, manis dan nyaman. Karena pada saat itu aku masih tidak tahu apa-apa hanya berpikir tentang keceriaan. Menjadi dewasa menyadarkan ku bahwa waktuku hanya sedikit, walaupun waktu tak akan mengenal usia . Sesekali waktu aku rindu dengan masa kecil. Penuh dengan keceriaan, permen, luka akibat jatuh dari sepeda, dan segala kenangan pada masa itu. Kedewasaan bukan lah hal tentang fisik tapi akal. Dunia dewasa itu penuh dengan huru hara, Abu-abu, ketiadaan hati nurani itulah yang pertama kali terpikirkan.
Bener gak sih kebanyakan orang lebih suka nulis caption daripada mereka nulis blog. Jujur ya aku tuh males nulis ngetik gini lebih enak leluasa nulis diary. Tapi kalo aku beli diary jatuhnya malah jarang di pake dan pada akhirnya buang buang duit. Aku juga jarang banget nulis jadi, aku pengen memulai diriku ini untuk menulis. Walaupun gak akan ada yang baca juga, terus di blog ini aku juga akan ngeluarin uneg uneg aku yang ada di hati dan otak. Dan aku juga akan mulai lebih terbuka di sini walaupun aku ga bisa terbuka di sosmed ataupun dunia nyata. Setidaknya aku harus memulai jadi pemberani lewat tulisan aku ini. Sebagian orang yang aku lihat lewat kacamata ku (aslinya aku gak pake kacamata) lebih suka nulis caption karena mereka ingin pamer mungkin sebagian orang ada yang ingin memotivasi ya itu bagus tapi, aku lihat teman teman di sekitar ku tuh bukan untuk memotivasi mungkin lebih ke kebutuhan sosialnya yang di sertai foto-foto candid dan filter yang bagus. Makannya aku jarang n...